Showing posts with label DUNIA BELAJAR ANAK. Show all posts
Showing posts with label DUNIA BELAJAR ANAK. Show all posts

Menciptakan Belajar Manjadi Menyenangkan

Matematika itu Menyenangkan, juga Menguntungkan
Mendengar kata "matematika", kening kebanyakan orang langsung berkerut. Di kepalanya terbayang angka-angka yang rumit dan susah dipecahkan. Di benaknya tergambar rumus-rumus yang sulit dihapal dan dimengerti.

Matematika juga kerap dipahami sebagai sesuatu yang mutlak, sehingga seolah-olah tak ada kemungkinan cara dan jawaban lain yang berbeda-beda. Ya, matematika diyakini sebagai formula yang serba pasti karena dia sudah terkenal sejak zaman lahirnya para penemu dengan nama "ilmu pasti"

Murid-murid yang mempelajari matematika di sekolah pun menerima pelajaran matematika sebagai sesuatu yang mesti tepat dan tak sedikit pun boleh salah. Pendeknya, baik di sekolah atau di rumah, matematika menjadi beban dan bahkan hal yang menakutkan.

Saat mengukur tinggi pohon, misalnya, tak tersedia jawaban "sekitar" --contohnya, "sekitar 10 meter". Kalau tak punya penggaris setinggi 10 meter, ya si pengukur mesti menentukan letak tempat dia berdiri dan berapa jaraknya dari pohon, lalu ia mesti mengambil busur dan menentukan berapa derajat sudut kemiringan pucuk pohon dengan titik tempat dia berdiri itu. Setelah itu ia mesti memakai rumus Phytagoras atau dalil kalkulus (sinus dan cosinus) sebagai alat pemberi kepastian tinggi pohon. Rumit.

Apakah Anda akan memaksakan kepastian-kepastian dalam ilmu ini kepada anak Anda yang baru saja (hendak) mengenal matematika? Jika ya, Anda telah membantu mempersiapkan buah hati Anda ke dalam kelompok calon pembenci matematika di masa depan. Dan menjadi benarlah apa kata filosof Bertrand Russell yang menyebut matematika sebagai "keindahan yang dingin".

Mary Pride, seorang ibu rumahtangga di Boston Amerika Serikat, yang menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar home schooling menyarankan agar Anda segera menjauhkan segala image "mengerikan" matematika seperti yang berkembang saat ini dari hadapan anak.

Caranya, kata Mary Pride, matematika justru harus dikenalkan pada anak sedini mungkin. Jangan menunggu anak besar--misal hingga kelas 1 atau 2 SD. "Perkenalkan istilah matematika dan apa yang termasuk di dalamnya dengan cara yang menyenangkan. Buatlah kesan bahwa matematika itu menyenangkan, dan kalau perlu menguntungkan," kata Pride.

Menguntungkan? Pride menganjurkan untuk memberi hadiah untuk setiap permainan matematika yang dibuat menjadi semacam lomba yang menyenangkan. Hadiah itu disarankan bukan berupa barang yang bisa merangsang anak konsumtif atau permen yang jika sering diberikan tak baik bagi kesehatan gigi anak.

"Tawarkan, misalnya, dongeng yang paling disukai anak untuk dibaca menjelang tidur atau berikan pilihan tempat yang disukai untuk berakhir pekan," ucapnya. "Jangan lupa ketika anak bisa menjawab pertanyaan, ia harus dipuji. Ibu-ibu sering lupa dan pelit memuji."

Matematika yang menyenangkan itu bisa disuguhkan dalam bentuk permainan, lagu-lagu yang diciptakan sendiri, gambar-gambar yang memadukan angka dengan hewan atau bunga dan buah, atau merangsang pengalaman anak untuk merasakan inderanya sendiri.

Jika di kebun Anda ada beberapa bunga yang bisa dijangkau anak, misalnya, ajaklah anak Anda untuk memegangnya sambil menghitung berapa jumlah bunga itu. Tak usah sampai lebih dari 10, 5 bunga pun yang dihitung sudah sangat bagus. Ajak anak mengucapkan hitungannya dengan suara yang keras. Ini akan melatih memori anak. Dengan menghitung, anak juga bisa merasakan halusnya bunga dan mengenal warna.

Atau ajaklah anak Anda menghitung jarinya sendiri. Hitunglah dari 1, 2 dan seterusnya, lalu dibalik dari belakang ke depan (dari angka yang tinggi kembali ke 1). Berulang-ulang. Menghitung jari tak usah buru-buru. Bikinlah lagu "menghitung jari" jika anak menunjukkan tanda-tanda bosan.

Lewat hitungan jari itu juga bisa dibikin permainan agar anak menghitung jumlah jempol (tangan dan kaki), telunjuk, atau ruas jari yang lain. Jika anak bisa menghitung dengan tepat, pujilah dan beri hadiah yang sudah Anda rencanakan. Dari sini anak bisa belajar menghitung dan sekaligus lebih mengenal anggota tubuhnya.

Pride juga menyarankan untuk mengajarkan bahasa asing sejak dini lewat permainan matematika yang menyenangkan itu. Saat anak menyebut "satu", kasih tahu dia ada bahasa lain selain bahasa Indonesia yang menunjuk 1. Tapi pengajaran bahasa asing itu dianjurkan untuk tak mengganggu tujuan sebenarnya untuk mendekatkan anak dengan matematika.

Sebelum bermain atau menyanyikan lagu untuk permainan itu jangan lupa untuk memberi tahu bahwa itu semua adalah "permainan matematika". Ini bermanfaat untuk menanamkan memori pada anak bahwa matematika itu menyenangkan.

Lewat permainan ini, Pride membuktikan bahwa anak perempuan yang menurut penelitian dikatakan lebih lambat mencerna matematika ketimbang anak laki-laki terbantahkan. "Lewat home schooling atau pengajaran di rumah, anak perempuan justru lebih cepat mencerna matematika daripada anak laki-laki, karena anak perempuan ternyata lebih mudah menyesuaikan game dan lagu-lagu "permainan matematika," katanya.

Memang, untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada matematika, anak-anak lebih dulu perlu dirangsang untuk menyenangi angka. Setelah angka, Anda kemudian bisa menyuguhkan permainan "tambah-tambahan", "pengurangan" dan sebagainya. Suguhkanlah permainan itu secara bertahap dan senantiasa menyenangkan.

Jika anak salah menjawab, Anda jangan pernah mencelanya atau memberi nilai buruk atau tak memberi hadiah sama sekali. Bagaimana pun anak-anak menyukai hadiah. Masalahnya, tinggal pilihkan hadiah apa untuk jawaban benar dan untuk jawaban yang "belum benar". "Anak-anak itu menyukai semua yang menguntungkan dan menyenangkan hatinya," kata Pride. Jadi cobalah di rumah.

sumber : sahabat nestle

Artikel : Mendorong Anak Menjadi Aktif

Kiat Mendorong Anak Menjadi Aktif

Umumnya anak yang aktif dan enerjik lebih sehat, kuat dan tangkas. Karena
aktivitas fisik mereka cukup, sehingga membantu menjaga kesehatan dan
staminanya. Anak sehat dan aktif juga memiliki kapasitas belajar lebih baik,
sehingga lebih tangggap dan dapat berkonsentrasi dengan baik di sekolah.

Doronglah putra-putri Anda untuk lebih aktif dan enerjik di masa pertumbuhan
mereka, agar kelak tumbuh sehat dan bugar ketika dewasa.

*Kenali Anak di Usia Aktif*
Untuk mendukung pertumbuhan anak di usia aktif (usia sekolah) maka, kegiatan
di dalam rumah yang relatif kurang aktivitas fisiknya perlu diimbangi dengan
kegiatan di luar rumah yang relatif lebih banyak aktivitas fisik. Banyak
manfaat bisa diperoleh anak Anda dari aktivitas fisik seperti olahraga,
antara lain:

- Pertumbuhan anak yang aktif bergerak lebih baik dibandingkan anak
yang kurang bergerak.
- Mendukung pertumbuhan tulang lebih padat dan kuat, sehingga
pertumbuhan tinggi badannya lebih optimal.
- Membuat jantung lebih kuat sehingga meningkatkan metabolisme dan
memperlancar peredaran darah dan oksigen secara maksimal ke seluruh otak,
sehingga membantu meningkatkan konsentrasi belajar.
- Menjaga kelenturan tubuh dan meningkatkan fleksibilitas tubuh.
- Menjaga keseimbangan berat badan dan menekan resiko obesitas

*Tips untuk membantu agar putra-putri Anda menjadi lebih aktif:* *

1. Cari tahu minat mereka, kemudian daftarkan ke klub yang sesuai
dengan minat mereka. Seperti klub basket, sepak bola, tennis, renang atau
aktivitas lainnya seperti kelas tari, kursus musik atau marching band.
Apabila Anda ingin mendaftarkan mereka ke klub olahraga, berikut adalah tips
memilih klub olahraga:
1. Cek apakah jarak antara klub dengan rumah/ sekolah cukup
dekat
2. Selidiki seberapa baik reputasi klub tersebut
3. Tanyakan prestasi apa yang pernah dicapai oleh klub tersebut
4. Tanyakan program-program yang dimiliki klub tersebut
5. Cek kelengkapan sarana klub
6. Tanyakan pendapat anggota klub mengenai klub tersebut
7. Cek apakah biaya untuk masuk klub sesuai dengan budget
8. Akan lebih baik bila ada anak dari teman Anda yang menjadi
anggota tersebut, sehingga Anda bisa menanyainya langsung.

Batasi waktu menonton televisi dan bermain video games menjadi 1-2
jam sehari, agar mereka punyalebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas
fisik seperti berolahraga di klub sport.

Pilih hadiah untuk anak yan dapat memperbanyak aktivitas fisik
sesuai minat mereka. Misalnya, bola basket, raket bulutangkis, tali
skipping, hulahoop, dan lain sebagainya.

Ciptakan jadwal kegiatan fisik di dalam rumah yang menyenangkan
anak dan lebih membutuhkan banyak gerak. Misalnya menanam bunga,
membersihkan rumah dan halaman, atau berbenah.

Jadilah contoh bagi anak-anak dalam beraktivitas fisik. Misalnya,
anda rajin jogging setiap minggu. Jangan lupa ajak anak untuk turut
berolahraga bersama Anda.

Artikel : Memacu IQ selagi ada waktu

Anak cerdas tentu dambaan setiap orang, sebab kecerdasan merupakan modal tak ternilai bagi si anak untuk mengarungi kehidupan di hadapannya. Beruntung kecerdasan yang baik ternyata bukan harga mati, melainkan dapat diupayakan.

Dr. Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, AS, memperkirakan faktor genetik cuma memiliki peranan sebesar 48% dalam membentuk IQ anak. Sisanya adalah faktor lingkungan, termasuk ketika si anak masih dalam kandungan.

Untuk menjelaskan peran genetika dalam pembentukan IQ anak, seorang pakar lain di bidang genetika dan psikologi dari Universitas Minnesota, juga di AS, bernama Matt McGue, mencontohkan, pada keluarga kerajaan yang memiliki gen elit, keturunannya belum tentu akan memiliki gen elit.

"Keluarga bangsawan yang memiliki IQ tinggi umumnya hanya sampai generasi kedua atau ketiga. Generasi berikutnya belum diketahui secara pasti, karena mungkin saja hilang, meski dapat muncul kembali pada generasi kedelapan atau berikutnya," ungkap McGue. "Orang tua yang memiliki IQ tinggi pun bukan jaminan dapat menghasilkan anak ber-IQ tinggi pula." Ini menunjukkan genetika bukan satu-satunya faktor penentu tingkat kecerdasan anak.

Faktor lingkungan, dalam banyak hal, justru memberi andil besar dalam kecerdasan seorang anak. Yang dimaksud tak lain adalah upaya memberi "iklim" tumbuh kembang sebaik mungkin sejak si anak masih dalam kandungan agar kecerdasannya dapat berkembang optimal. Dengan gizi dan perawatan yang baik misalnya, si Polan bisa cerdas. Atau dengan menjaga kesehatan secara baik dan menghindari racun tubuh selagi ibunya mengandung dia, si Putri dapat memiliki intelegensia baik. Begitu pula dengan memberikan kondisi psikologis yang mendukung, angka IQ si Tole lebih tinggi dari teman sebayanya. Gizi, perawatan, dan lingkungan psikologis itulah faktor lingkungan penentu kecerdasan anak.

Kisah Helen dan Gladys, sepasang bayi kembar, bisa menjadi salah satu buktinya. Pada usia 18 bulan mereka dirawat secara terpisah. Helen hidup dan dibesarkan dalam satu keluarga bahagia dengan lingkungan yang hidup dan dinamis. Sedangkan Gladys dibesarkan di daerah gersang dalam lingkungan "miskin" rangsangan intelektual. Ternyata saat dilakukan pengukuran, Helen memiliki angka IQ 116 dan berhasil meraih gelar sarjana dalam bidang Bahasa Inggris. Sebaliknya Gladys terpaksa putus sekolah lantaran sakit-sakitan dan IQ-nya 7 angka di bawah saudara kembarnya.

Gizi dan perilaku ibu

a.. Dr. Devlin menemukan bukti bahwa keadaan dalam kandungan juga sangat berpengaruh pada pembentukan kecerdasan.
"Ada otak substansial yang tumbuh dalam kandungan," jelasnya. "IQ sangat tergantung pada bobot lahir bayi. Anak kembar, rata-rata memiliki IQ 4 - 7 angka di bawah anak lahir tunggal karena umumnya bayi kembar memiliki bobot badan lebih kecil," tambahnya.

Lebih dari 20 tahun terakhir berbagai penelitian juga mengungkapkan korelasi positif antara gizi, terutama pada masa pertumbuhan pesat, dengan perkembangan fungsi otak. Ini berlaku sejak anak masih berbentuk janin dalam rahim ibu. Pada janin terjadi pertumbuhan otak secara proliferatif (jumlah sel bertambah), artinya terjadi pembelahan sel yang sangat pesat. Kalau pada masa itu asupan gizi pada ibunya kurang, asupan gizi pada janin juga kurang. Akibatnya jumlah sel otak menurun, terutama cerebrum dan cerebellum, diikuti dengan penurunan jumlah protein, glikosida, lipid, dan enzim. Fungsi neurotransmiternya pun menjadi tidak normal.

Dengan bertambahnya usia janin atau bayi, bertambah pula bobot otak. Ukuran lingkar kepala juga bertambah. Karena itu, untuk mengetahui perkembangan otak janin dan bayi berusia kurang dari setahun dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan mengukur lingkar kepala janin.

Begitu lahir pun, faktor gizi masih tetap berpengaruh terhadap otak bayi. Jika kekurangan gizi terjadi sebelum usia 8 bulan, tidak cuma jumlah sel yang berkurang, ukuran sel juga mengecil. Saat itu sebenarnya terjadi pertumbuhan hipertropik, yakni pertambahan besar ukuran sel. Penelitian menunjukkan, bayi yang menderita kekurangan kalori protein (KKP) berat memiliki bobot otak 15 - 20% lebih ringan dibandingkan dengan bayi normal. Defisitnya bahkan bisa mencapai 40% bila KKP berlangsung sejak berwujud janin. Karena itu, anak-anak penderita KKP umumnya memiliki nilai IQ rendah. Kemampuan abstraktif, verbal, dan mengingat mereka lebih rendah daripada anak yang mendapatkan gizi baik.

Asupan zat besi (Fe) juga diduga erat kaitannya dengan kemampuan intelektual. Untuk membuktikannya, Politt melakukan penelitian terhadap 46 anak berusia 3 - 5 tahun. Hasilnya menunjukkan, anak dengan defisiensi zat besi ternyata memiliki kemampuan mengingat dan memusatkan perhatian lebih rendah. Penelitian Sulzer dkk. juga menunjukkan anak menderita anemia (kurang darah akibat defisiensi zat besi) mempunyai nilai lebih rendah dalam uji IQ dan kemampuan belajar.

Maka atas dasar hasil penelitian tadi, kita bisa mengatur makanan anak sejak janin. Ketika anak masih dalam kandungan, si ibu mesti makan untuk kebutuhan berdua dengan gizi yang baik. Perilakunya juga mesti dijaga agar tidak memberi pengaruh buruk terhadap janin. Pasalnya, perilaku "buruk" ibu hamil, merokok misalnya, ternyata juga menjadikan IQ anak rendah.

Penelitian David L. Olds et. al. (1994) dari Departement of Pediatrics, University of Colorado di Denver, AS, menunjukkan bayi-bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki faktor potensial ber-IQ rendah, seperti bobot lahir rendah, lingkar kepala lebih kecil, lahir prematur, dan perawatan saat di ICU lebih lama dibandingkan dengan bayi dari ibu tidak merokok selama hamil. Anak dari ibu perokok selama hamil pada usia 12 - 24 bulan memiliki nilai IQ 2,59 angka lebih rendah, pada 36 - 48 bulan memiliki nilai IQ 4,35 angka lebih rendah ketimbang IQ anak dari ibu tidak merokok saat hamil.

Menurut David, asap rokok diduga akan mengurangi pasokan oksigen yang sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan sistem syaraf janin. Nikotin rokok akan membuat saluran utero-plasental menyempit. Akibatnya, sel-sel otak bayi akan menderita hypoxia atau kekurangan oksigen. Asap rokok juga akan memicu terjadinya proses carboxy hemoglobin, yaitu sel-sel darah yang semestinya mengikat oksigen malah mengikat CO dari asap rokok. Selain itu, asap rokok juga mengandung sekitar 2.000 - 4.000 senyawa kimia beracun yang secara langsung mengganggu dan merusak berbagai proses tumbuh kembang sel-sel dan sistem syaraf.

Merokok selama hamil juga berpengaruh pada kekurangan zat gizi yang diperlukan dalam proses tumbuh kembang sel otak. Misalnya, kebutuhan zat besi akan meningkat karena harus memenuhi keperluan pembentukan sel-sel darah yang banyak mengalami kerusakan. Hal ini akan mengurangi kemampuan dan persediaan zat gizi lainnya, seperti vit. B-12 dan C, asam folat, seng (Zn), dan asam amino. Zat-zat gizi tsb. dilaporkan sangat diperlukan dalam proses tumbuh kembang sel-sel otak janin. Jika terjadi kekurangan zat-zat gizi esensial, proses tumbuh kembang otak tidak optimal, sehingga nilai IQ pun menjadi lebih rendah.

Setelah lahir, asupan gizi bagi bayi juga harus dijaga tetap baik. Idealnya, anak mendapatkan ASI secara eksklusif sampai usia 4 - 6 bulan. Jenis makanan, selain ASI, untuk bayi dan anak balita sebaiknya dibuat dari bahan makanan pokok (nasi, roti, kentang, dll.), lauk pauk, bebuahan, air minum, dan susu sebagai sumber protein dan energi. Jangan lupa, bahan makanan harus diolah sesuai tahap perkembangan dari lumat, lembek, selanjutnya padat. Secara keseluruhan asupan makanan sehari harus mengandung 10 - 15% kalori dari protein, 20 - 35 % dari lemak, dan 40 - 60% dari karbohidrat.

Menu seimbang diberikan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Sejak awal balita, jika memungkinkan, anak diberi susu sebanyak 500 ml. Namun, jika ASI cukup, susu pengganti tidak perlu diberikan hingga usia dua tahun.

Perhatian juga mesti diberikan terhadap jadwal pemberian makanan. Makan besar tiga kali (sarapan, makan siang, dan malam), makan selingan (makan kecil) dua kali yang diberikan di antara dua waktu makan besar, air minum diberikan setelah makan dan ketika anak merasa haus, serta susu diberikan dua kali, yakni pagi dan menjelang tidur malam.

Untuk mengetahui kecukupan gizi pada anak ada dua cara yang bisa digunakan. Pertama cara subjektif, yakni mengamati respon anak terhadap pemberian makanan. Makanan dinilai cukup jika anak tampak puas, tidur nyenyak, aktifitas baik, lincah, dan gembira. Anak cukup gizi biasanya tidak pucat, tidak lembek, dan tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan.

Cara kedua adalah dengan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Cara ini dilakukan dengan mengukur bobot dan tinggi anak, dilengkapi dengan mengukur lingkar kepala pada anak sampai usia 3 tahun. Hasil pengukuran dibandingkan dengan data baku untuk anak sebaya. Jika ditemukan tanda-tanda kurang sehat, seperti pucat atau rambut tipis dan kemerahan, anak perlu diperiksa secara medis. Ada baiknya juga dilakukan pemeriksaan psikologis, terutama bila ada kemunduran prestasi belajar.

Tempat tinggal dan cerita

a.. Selain faktor gizi dan perawatan, apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari anak, sejak dalam kandungan sampai usia lima tahun, sangat menentukan intelegensia dasar untuk masa dewasanya kelak.
Setelah usianya melewati lima tahun, secara potensial IQ-nya telah tetap. Dengan begitu, masa itulah merupakan "kesempatan emas" bagi kita untuk memacu tingkat kecerdasan anak.

Menurut Jean Piaget, psikolog dari Swis, semakin banyak hal baru yang dilihat dan didengar, si anak akan semakin ingin melihat dan mendengar segala sesuatu yang ada dan terjadi di lingkungannya. Karenanya disarankan agar orang tua memperkaya lingkungan tempat tinggal (kamar tidur atau kamar bermain) bayi dengan warna dan bunyi-bunyian yang merangsang. Umpamanya, gambar-gambar binatang atau bunga, musik, kicauan burung, dsb. Semuanya mesti tidak menimbulkan ketakutan dan kegaduhan pada anak.

Para pakar juga yakin lingkungan verbal bagi anak juga tak kalah pentingnya. Bahasa yang didengarkan anak bisa meningkatkan atau menghambat kemampuan dasar berpikirnya. Penelitian hal ini dilakukan psikolog Rusia. Ia membayar para ibu keluarga miskin untuk membacakan cerita dengan suara keras untuk bayi mereka masing-masing selama 15 - 20 menit setiap hari. Menjelang berusia 1,5 tahun, bayi menjalani pengukuran. Hasilnya, bayi-bayi itu memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik ketimbang bayi-bayi seusianya di daerah yang sama.

Penelitian lain dilakukan di sebuah sekolah perawat di New York, AS, terhadap dua kelompok anak usia tiga tahun. Masing-masing anak diperlakukan secara berbeda. Kelompok pertama diberi pelajaran berbahasa selama 15 menit setiap hari. Kelompok kedua diberi perhatian khusus juga selama 15 menit tanpa pelajaran bahasa. Setelah 4 bulan ternyata kelompok pertama mendapatkan kenaikan intelegensia rata-rata sebesar 14 angka. Sedangkan kelompok kedua kenaikan rata-ratanya cuma 2 angka.

Nah, untuk mendapatkan anak cerdas ternyata gampang. Cuma dengan memberi makanan sehat, perawatan baik, dan lingkungan psikologis yang mendukung sejak dalam kandung hingga usia lima tahun, besar kemungkinan harapan kita akan tercapai. (dr. Audrey Luize)

sumber www.kompas.com

Artikel : Beban belajar pd Anak & masa depannya

Jakarta, Kompas

DITA (35, bukan nama sebenarnya) mengaku agak kesal ketika anaknya, Dony (5), tidak diterima di sebuah sekolah dasar yang sudah menjadi favorit Dita.

Padahal, sejak dulu Dita ingin sekali anaknya bisa belajar di sekolah itu karena sudah sering didengarkan keberhasilan sekolah itu dalam mendidik muridnya. Sekolah tersebut menolak menerima Dony karena umur Dony belum genap enam tahun ketika tahun ajaran baru dimulai.

PADAHAL, usia Dony genap enam tahun jatuhnya pada bulan Agustus. Jadi, sebenarnya dia hanya kurang satu bulan saja, tetapi tetap saja dia tidak diterima," ungkap Dita kesal.

Dony memang diterima di sebuah sekolah lain yang sebenarnya tidak kalah kualitasnya dengan sekolah yang diinginkan Dita. Hal ini tentu saja membuat Dita heran. Mengapa ada sekolah-sekolah yang begitu ketat soal umur anak yang hendak menjadi murid baru, sementara ada juga sekolah yang tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Sedangkan Evi (40) mengaku sungguh capek karena setiap hari harus mengantar putranya, Arief (6), mengikuti berbagai macam kursus tambahan. "Saya ingin mencari bakat yang ada dalam diri Arief. Makanya dia saya ikutkan ke berbagai macam kursus. Jika memang dia tidak tertarik, tentu dia akan malas. Nyatanya, dia sangat senang dan selalu bersemangat untuk mengikuti kursus-kursus itu. Tetapi buat saya sendiri, yang ada badan capek karena harus mengantar dia ke berbagai tempat kursus," cerita Evi.

Menurut dia, walaupun Arief mengikuti kursus Bahasa Mandarin, Bahasa Inggris, sempoa, dan piano, pelajarannya di tingkat taman kanak-kanak tidak ketinggalan. "Hanya saja, setelah Arief masuk SD (sekolah dasar), saya akan kurangi kursusnya karena beban pelajaran di SD juga sudah berat," ujar Evi yang menyisakan kursus piano dan menggambar buat Arief.

Evi sendiri mengaku tidak tahu apakah tindakan yang dilakukannya tersebut benar atau tidak bila dilihat dari sisi pendidikan anak. Dia hanya berpegang pada niatnya untuk memberikan yang terbaik buat putranya. Dia berharap, bila Arief sudah dewasa, anak itu mempunyai kemampuan lebih untuk bersaing dengan yang lain.

KAPAN sebenarnya anak sebaiknya diperkenalkan dengan sekolah atau kursus tambahan?

Menurut Dr Christine Chen, Presiden Association for Early Childhood Educator Singapore (semacam persatuan guru di Singapura), dan Tang Hui Nee, psikolog pendidikan dari Singapura, sangat bergantung pada kesiapan mental si anak.

"Setiap anak memiliki tingkat pencapaian kedewasaan yang berbeda-beda. Jika memang dia tidak siap, jangan paksakan dia karena itu tidak akan membuat dia bisa menikmati semuanya," kata Tang yang hadir di Indonesia dalam rangka peresmian Pelangi, sebuah lembaga pendidikan bagi para pengajar dan orangtua yang tertarik pada pendidikan usia dini.

Pendapat yang sama juga dikemukakan Christine. Menurut dia, ketika pindah dari Amerika Serikat ke Singapura, dia melihat putra pertamanya tidak siap mengikuti pelajaran di Singapura.

"Seharusnya dia naik ke kelas II. Tetapi saya tetap meminta gurunya untuk menempatkan putra saya di kelas I. Secara akademik, dia memang mampu. Tingkat inteligensinya juga tinggi, yakni lebih dari 130. Tetapi saya lihat dia membutuhkan penyesuaian untuk segi sosial dan emosionalnya. Dia belum siap di bidang itu," ujar Christine.

Keputusan yang diambil Christine itu ternyata tepat. Memang jika dilihat dari faktor waktu, putranya rugi satu tahun. Akan tetapi, secara mental, sang putra tumbuh dengan baik, lebih matang, dan bisa bertanggung jawab.

"Putra saya juga bisa menjalani masa-masa adaptasi dengan baik tanpa dibebani dengan pelajaran baru. Jika dia tetap masuk ke kelas II, suatu saat nanti bisa terjadi hal-hal yang tidak terduga," lanjutnya.

Pemerintah Singapura juga telah memutuskan, setiap guru harus melihat kesiapan anak-anak untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Jika memang dinilai belum siap, walaupun secara akademik dan usia telah mencukupi, anak itu tidak akan diizinkan naik ke jenjang selanjutnya.

Mengenai orangtua yang berduyun-duyun ingin menjejali anaknya dengan berbagai macam kursus, menurut Tang, hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Singapura gejala itu pun terjadi.

"Ketika saya memasukkan putri saya yang berumur lima tahun untuk kursus piano, saya dipandang aneh. Orang Singapura sudah memasukkan anaknya ke kursus piano sejak anak berusia tiga tahun. Anak saya jadi yang paling tua di kelas itu," kata Tang.

Walau mendapat tatapan aneh dari lingkungan sekitar, Tang mengatakan tidak peduli. Hal yang terpenting baginya adalah putrinya merasa bahagia dengan apa yang dijalaninya. "Saya tidak mau merampas masa-masa bermain anak dengan berbagai macam kursus yang bisa dijalaninya nanti. Jika dipaksakan, nanti anak merasa bosan dan tidak menikmatinya. Hasilnya akan sia-sia saja. Biarkan anak berkembang sesuai waktunya tanpa paksaan," ujar Tang.

Apa yang dikatakan Christine dan Tang ini agaknya telah terjadi pada Endang (43) terhadap putrinya, Tasa (12). Tasa yang masuk jenjang SD ketika berusia 5,5 tahun dan dua kali mengikuti kelas akselerasi memang beruntung dari sisi menghemat waktu tiga tahun. Jadi, saat dia duduk di kelas I SMA, usianya baru 12 tahun. Padahal, teman-teman sekelasnya berusia 15 atau 16 tahun.

"Secara akademik, Tasa bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Tetapi, secara emosional, dia beberapa kali harus terbentur masalah. Dirinya yang masih muda harus bergaul dengan teman-teman yang lebih tua. Hasilnya, omongan di antara mereka tidak nyambung dan akhirnya Tasa tidak memiliki teman," kata Endang.

Tasa tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan teman-teman sesama kelas I SMA karena dia masih tertarik pada hal-hal yang berbau anak-anak, misalnya film kartun. Sedangkan teman-temannya yang sudah beranjak remaja tidak lagi tertarik pada film kartun. Mereka lebih tertarik pada masalah cinta, jerawat, majalah remaja, dan sebagainya.

Jika memang ada risiko yang harus dihadapi berkaitan dengan usia anak dan pendidikan, tinggal orangtua yang harus menimbang keputusan terbaik yang harus diambil untuk masa depan anaknya bukan demi kebanggaannya sebagai orangtua.

Biar bagaimanapun, apa yang diputuskan orangtua ikut berperan dalam masa depan anak. Orangtua harus mengingat, kesuksesan seseorang tidak hanya bergantung pada nilai akademik semata, tetapi ada faktor-faktor lain yang menentukan, seperti kematangan emosi dan kemampuan anak itu bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. (ARN)

sumber www.kompas.com

Artikel : Takut Sekolah

Kecemasan dan rasa takut merupakan suatu perkembangan jiwa yang normal pada anak-anak.
Saat masuk sekolah, misalnya, anak yang berani sekalipun, bakal merasa gelisah, tidak percaya diri, bahkan takut terhadap sekolah. Jadi, wajar saja jika si kecil yang baru masuk TK mengatakan, "Mama, aku takut!"

Di bawah ini sejumlah ketakutan yang biasanya dialami anak-anak:

TAKUT BERPISAH
Secara umum dapat dipastikan, setiap anak merasa takut sekali ditinggalkan oleh orang tuanya atau orang yang dicintai. Hal ini bisa menciptakan suatu permulaan yang jelek, terutama jika anak memasuki masa perubahan besar seperti mulai sekolah.
Jalan untuk menjadi mandiri tidak pernah mudah. Di dalam dada si kecil perasaannya bercampur-aduk. Antara gembira dan takut menghadapi langkah besar ini, yaitu harus berpisah dengan Anda, meski untuk waktu yang sebentar.

KETAKUTAN UMUM
Ada anak yang menjadi sangat takut menghadapi beberapa masalah dan situasi. Misalnya, pergi ke dokter, melihat anjing atau badut. Hal ini dapat disebabkan karena mungkin saat itu anak sedang sakit, dalam keadaan lelah, tetapi ia harus disuntik.
Ada kemungkinan juga anak takut pada sesuatu yang sering diceritakan tapi tidak pernah dilihatnya semisal hantu, meteor, dan lainnya. Mengapa mereka menjadi takut? Anak-anak mempunyai imajinasi aktif yang dapat membuat pikirannya menjadi bermacam-macam dan akhirnya menganggap benda-benda yang tidak umum menjadi menakutkan.

KETAKUTAN SOSIAL
Anak berumur 5 tahun mungkin merasa takut karena menghadapi situasi baru dan melihat orang yang tidak dikenalnya. Mungkin saja situasinya menjengkelkannya: teman-teman yang belum dikenal, sulit mencari teman yang cocok di mana hal ini menjadi masalah penting baginya.
Tapi jangan khawatir. Walaupun rasa takut merupakan hal yang umum bagi anak-anak, kebanyakan dari mereka dapat saling menyesuaikan diri pada waktunya.

MENGHINDARI SEKOLAH
Pada waktu harus pergi kesekolah, ada beberapa anak yang merasa sedih, menangis, mengeluh sakit, dan meminta tinggal di rumah. Jika hal ini terjadi pada anak Anda, Anda harus membawanya ke dokter untuk mencek seluruh kesehatannya dan kemudian antarkan dia ke sekolah jika ternyata ia baik-baik. Mungkin ini hanya merupakan gejala dari rasa takutnya untuk berpisah. Bisa juga sebagai gelaja ketakutan yang lebih khusus, entah karena takut jadi ejekan teman-temannya karena belum mampu makan sendiri dengan baik, dan lainnya.

APA YANG HARUS DILAKUKAN
Jika anak Anda yang berumur 5 tahun menjadi takut atau penakut, ikutilah naluri Anda. Peluklah dia dan berikan rasa aman. Tapi jangan hanya berhenti di situ. Bantulah anak untuk mengatasi ketakutannya dengan mengambil langkah-langkah kreatif seperti di bawah ini.

1. Nyatakan Ketakutan
Rasa takut adalah hal normal untuk anak usia balita. Mengingkarinya justru merupakan hal yang tidak masuk akal. Contohnya, jika dia takut kehilangan Anda di toko atau supermarket, katakan padanya, ketakutan itu terjadi pada diri Anda juga dan karena itu Anda selalu memperhatikannya, tak mau jauh-jauh darinya karena khawatir ia hilang.
Begitu juga saat ia berangkat sekolah, jika ia ikut mobil antar-jemput, antar ia sampai mobil dan katakan padanya Anda akan selalu menunggunya sepulangnya ia dari sekolah.

2. Bicara
Mendiskusikan masalah ketakutan yang sederhana kadang dapat mengurangi kegelisahan si kecil. Misalnya, anak dapat mulai tersipu-sipu malu tertawa jika mengingat mimpi terakhirnya yang menyeramkannya sehingga dia berani menceritakannya. Nah, jangan lupa dengarkan ceritanya dan hilangkan rasa takut anak. Atau jika dia takut mengenai pelajaran di sekolahnya, cobalah bantu beri pengertian bahwa dia harus mau belajar karena semua orang hanya bisa berhasil karena belajar. jangan lupa pula selalu memberinya semangat.

Jika dia tidak merasa nyaman dan aman karena kelakuan temannya, ambil tindakan jika hal itu terjadi lagi dan katakan padanya, gurunya akan selalu siap menolong di segala situasi. Biarkan dia tahu bahwa Anda akan selalu menolongnya. Yakinkan anak bahwa setiap masalah dapat teratasi, jadi jangan merasa takut!

3. Jangan Berharap Terlalu Tinggi
Hindari berharap secara berlebihan sehingga anak tidak takut untuk mengemukakan masalahnya. Beban di tahun pertama sekolah merupakan sesuatu yang harus dihadapi anak dan itu tidak bisa dianggap enteng. Cobalah untuk meringankan bebannya, misalnya untuk sementara waktu, berhenti dulu les piano atau les karate dan sebagai gantinya beri anak waktu lebih banyak untuk bermain dan membuat tugas sekolah.

4. Ciptakan Humor
Jika si kecil takut sekolah, ceritakan pengalaman lucu Anda di masa lalu. Misalnya, Anda sembunyi di belakang kaki ibu Anda saat hari pertama masuk sekolah. Atau betapa gemetarnya Anda ketika harus maju, menyanyi di depan kelas, tapi kemudian bisa menguasai keadaan karena Anda bersikap santai dan gembira. Ceritakan hal itu dengan penuh rasa humor. Soalnya, cerita lucu dapat menghilangkan rasa takut dan juga bila dia bisa belajar tertawa, hal itu bisa mengalahkan rasa takutnya.

5. Kapan Harus Minta Bantuan
Semua anak akan merasa takut, pada tingkatan tertentu, dan hal itu sangat wajar serta normal. Hanya pada sedikit anak, rasa takut menjadi suatu kelemahannya. Bicarakanlah hal ini pada dokter anak Anda jika ketakutan si kecil sampai mengganggu kegiatan keluarga, misalnya berhenti atau tidak mau bergaul, tidak mau pergi ke sekolah, selalu mencari alasan untuk tinggal di rumah, mengganggu tidurnya, sampai mengubah tingkah lakunya. Jika dianggap perlu, dokter akan merujuk anak ke psikolog. (Tabloid Nova)

Artikel : Sopan Santun pd Anak

Sopan santun alias tata krama merupakan kesadaran yang sensitif atas perasaan orang lain.
Jika kita memiliki kesadaran tersebut, berarti kita memiliki sopan santun yang baik. Di sisi lain, peraturan di dunia ini adalah kesadaran. Anak usia 1,5 tahun mulai bisa mengerti, orang lain mempunyai perasaan seperti halnya dirinya. Nah, inilah saat yang tepat untuk memulai mendidik anak mengenai sopan santun atau dengan kata lain mengajarkan padanya mengenai perasaan orang lain.
Jelas, hal ini lebih mudah diucapkan dibanding pelaksanaannya. Tapi jangan buru-buru putus asa. Kita bisa, kok, melatih si kecil. Apalagi jika Anda sudah mencamkan dengan baik hal-hal berikut ini di benak Anda, dan juga si kecil, sebelum melatihnya bertata krama.

1. KEBIASAAN BAIK
Bertindak sopan merupakan sebuah kewajiban dalam hidup dan harus terus dilakukan. Jadi, bukan sekadar perilaku tambahan pada acara perkawinan atau saat anak berada di restoran. Oleh karenanya, sangat penting untuk mengenalkan dan mendidik sedini mungkin sehingga anak merasakan hal itu sebagai sesuatu yang wajar, yang otomatis dilakukan, di mana pun dia berada.

2. MENDUKUNG SOSIALISASI
Dengan "modal" sopan santun yang baik, anak akan lebih mudah bersosialisasi. Anak-anak yang tidak belajar bersosialisasi sejak usia dini akan tumbuh menjadi anak yang berperangai sulit. Tingkah lakunya yang tak sopan, membuat orang tua malu. Misalnya, ketika ia mendorong temannya, ia tak mau mengatakan, "Maaf." Juga tak mau atau tidak tahu caranya bagaimana harus berbagi dengan teman, menanti giliran, dan tata krama umum lainnya.
Sebaiknya jangan masukkan anak ke taman bermain jika dia belum terbiasa dengan sopan santun. Menerjunkan anak ke dunia tanpa mengetahui tata krama sosial, sama dengan menjebloskan anak ke dalam lubang masalah.

3. PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Ya, belajar tata krama bukan seperti kursus yang memiliki jadwal khusus sekian jam per hari lalu selesai dalam 2-3 bulan. Sebaliknya, diperlukan waktu yang lumayan lama untuk menguasainya dan harus terus-menerus dipelajari.
Untuk mengenalkan satu keterampilan sosial, semisal mengucapkan "terima kasih", mungkin bisa "ditargetkan" dalam waktu sebulan. Tekankan pada si kecil yang sudah berusia 2 tahun untuk ta pernah lupa menghaturkan "terima kasih" setiap kali mendapat atau menerima sesuatu, dari siapa saja. Beri pengertian, hal itu merupakan cara kita menghargai orang lain, mengerti satu sama lain, dan perbuatan itu menyenangkan bagi semua pihak. Jangan lupa untuk terus "mengecek" anak, apakah ia sudah melakukannya mengingat anak usia ini sudah mulai suka membantah, tak mau menuruti perkataan orang tua.

4. BERI CONTOH
Sebagai orang tua, jadilah teladan yang baik. Berarti, jika meminta pasangan mengambilkan sesuatu, selalu dengan didahului kata "Tolong" dan diakhiri dengan kata "Terima kasih."
Tak hanya itu! Hindari pula mengeluarkan kata-kata kasar dalam keadaan apa pun juga. Perilaku dan tata krama yang baik harus selalu dilakukan kapan saja, di mana saja, pada siapa saja, dan berikan selalu contoh yang baik di depan anak-anak.

5. KONSISTEN
Bertindak atau menerapkan perilaku atau tata krama yang baik membutuhkan banyak latihan dan kemauan. Jadi, Anda dan pasangan harus saling sadar bertindak dengan tata krama yang baik pula. Misalnya, Anda atau pasangan punya kebiasaan tak menghabiskan makanan di piring sementara Anda menuntut si kecil harus selalu menghabiskan makanannya. Nah, melihat contoh yang ada di depan matanya, jangan heran kalau anak jadi bingung, mana yang harus diikutinya.

6 YANG WAJIB

1. TOLONG
Kata ini sudah mulai bisa diajarkan sejak anak berusia 1,5 tahun. Biasakan untuk "mengharuskannya" mengatakan "Tolong" jika menginginkan sesuatu.
Jangan lupa beri anak contoh. Setiap kali minta bantuan suami, pembantu, atau siapa saja, jangan pernah lupa mengawalinya dengan kata, "Tolong."

2. TERIMA KASIH
Anak usia 18 bulan mungkin sudah dapat mengucapkan kata-kata (meski masih cadel) dan tidak atau belum dapat menangkap arti kata yang sesungguhnya. Baru di saat berumur 2,5 tahun, anak dapat menghubungkan antara kata dan konsep arti.
Jika pada usia itu ia belum memiliki kebiasaan baik, didik dan biasakan anak untuk mengucapkan, "Terima kasih" jika menerima sesuatu dari orang lain. Katakan padanya, "Ayo, harus bilang apa kalau dapat hadiah atau makanan?"

3. BERBAGI
Anak usia 2 tahunan mulai mengerti konsep atau arti berbagi, menunggu giliran, walaupun mungkin dia tidak senang melakukannya!
Nah, dorong anak untuk mau berbagi dengan teman-temannya saat mereka sedang bermain. Misalnya, dengan memberikan mainan yang sama dan menawarkan satu kepada temannya.

4. MAAF
Apa yang bisa diharapkan dari balita usia 1,5 tahun yang pengertiannya masih sangat mendasar? Dia pasti benar-benar sulit untuk mengerti, kenapa dia harus minta maaf. Tapi setelah dia berumur 2,5 - 3 tahun, dia akan mengerti konsep tersebut meski masih sangat sempit.
Jika ia merebut mainan temannya, misalnya, beri pengertian padanya sambil bermain, bahwa tingkah lakunya salah dan harus minta maaf.

5. DI MEJA MAKAN
Anak umur 3 tahun sudah dapat makan dengan sendok dan garpu dan duduk manis di kursi di depan meja makan selama 15-20 menit. Ia juga sudah mampu membersihkan mulutnya dengan serbet/tisu jika ada makanan menempel/tercecer di mulutnya.

Untuk melatihnya, selama masa balita, beri anak makanan dengan porsi kecil, jangan dengan piring ceper, dan semangati anak untuk menggunakan alat-alat makan yang diperlukannya. Didik anak untuk tidak memainkan atau membuang makanan yang kebetulan tidak disukainya atau karena kebanyakan. Katakan padanya, "Kita tidak boleh membuang-buang makanan." Ajarkan pula, jika ditawari untuk menambah makanan, ia harus menjawab, "Ya, terima kasih", atau "Tidak, sudah cukup. Terima kasih." (Tabloid Nova)

Artikel : Mengajar Matematika pd Anak

Sering kita mendengar ucapan, "Anak saya yang usia pra sekolah sudah bisa menghitung dengan cepat, lo." Ucapan bernada bangga tersebut menggambarkan kemampuan anak balita dalam urusan hitung menghitung. Tetapi, apakah di balik nada bangga tersebut berarti anak sudah mengerti matematika?

Sesungguhnya, anak usia pra sekolah masih susah menyusun kata-kata. Jadi, meskipun anak tidak dapat belajar matematika "betulan", mereka bisa saja belajar menghitung, karena menghitung hanyalah merupakan salah satu aspek dari matematika.

Anak mulai belajar menghitung dengan caranya sendiri, sesuai dengan pertumbuhan dan belajar dari apa yang dialami setiap hari. Mulai dari panjang, jumlah, waktu, suhu, uang, dan lainnya. Melalui kegiatan yang menggunakan tangan, anak mengembangkan pengertiannya tentang matematika, dan kita sebagai orang dewasa harus peka serta mengenali permainan-permainan mereka. Misalnya menyortir dan menempatkan benda-benda sesuai dengan urutannya. Semua ini merupakan permainan yang memperkenalkan anak pada matematika.

ANEKA CARA
Berikut ini beberapa kesempatan dari kegiatan sehari-hari bagi anak untuk mulai mengenal angka-angka:

* Seputar dirinya
Anak memiliki perasaan bangga bila dapat menyebutkan berapa usianya, nomor telepon rumah, atau nomor rumahnya. Ia ingin mengetahui berapa tinggi serta berat badannya. Pada saat menempatkan anak di atas timbangan, hal ini juga memberi kesempatan padanya untuk belajar mengenal kilogram (untuk berat badan) serta sentimeter (untuk tinggi badan). Juga belajar mengenai lawan kata, seperti berat lawannya ringan serta tinggi lawannya pendek.
Anak juga bisa belajar mengenai ukuran bajunya dan jadi tahu, apakah baju ukuran tertentu pas untuknya atau tidak. Saat di toko baju, misalnya, ia akan berujar dengan lantangnya, "Wah, kalau S (small) aku enggak cukup. Harusnya yang M (medium)."

* Memasak
Saat bersiap hendak masak, libatkan si kecil. Kenalkan padanya tentang ukuran, pembagian, perkiraan waktu, dan lainnya. Minta ia membantu menaburkan tepung ke dalam mangkuk sambil menghitung berapa sendok tepung yang harus dituang. Secara tak langsung, anak sudah mulai mengenal cara menakar. Dan untuk suhu, Anda dapat mengingatkannya, dia harus berhati-hati dengan makanan ataupun minuman yang panas. Minuman ataupun makanan yang terlalu panas jangan dipegang ataupun diminum dan dimakan.

* Mengelola uang
Anak dapat menghitung, menyimpan, memilah,dan membelanjakan uang (tentu saja di bawah pengawasan Anda). Cara yang paling cepat dan mudah dicerna oleh anak untuk mengenali nilai uang adalah dengan membawa serta mereka berbelanja. Entah itu memilih makanan kesukaannya, berapa harganya, dan seberapa banyak ia dapat menghemat jika harga makanan favoritnya sedang didiskon.

* Di sekitar rumah
Perbaikan alat-alat rumah tangga memberikan kesempatan yang bagus sekali pada anak-anak untuk mempraktekkan keterampilan matematika. Minta anak memperhatikan saat Anda mengukur daun pintu/jendela rumah atau menggantungkan foto keluarga di dinding ruang makan. Anak-anak dapat membantu membuatkan lis foto. Kegiatan sehari-hari seperti menyetel temperatur AC atau menyiapkan meja makan, merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk menghitung dan belajar mengenali angka-angka.

* Bermain
Si kecil belajar mengenal angka melalui permainan-permainan seperti ular tangga, monopoli, atau halma. Anak-anak juga dapat belajar mengenal angka-angka melalui jam atau menghitung jarak pada saat bermain lempar-lemparan bola. Dukung anak untuk melakukan kegiatan atau olah raga bersama tetangga. Jangan lupa memperkenalkan dan membiasakan anak bermain puzzle dan balok, karena kedua permainan ini melibatkan pembelajaran angka-angka.

* Bepergian
Bahkan perjalanan yang pendek pun dapat memberikan pengalaman pada anak-anak dengan matematika. Minta anak menandai kilometer kendaraan sebelum berangkat dan catat pada kilometer berapa saat tiba di tujuan. Dengan begitu anak akan mengerti, seberapa jauh jarak yang ditempuh. Selain itu, minta ia memperhatikan rambu batas kecepatan kendaraan serta memperkirakan jam berapa akan sampai di tujuan.

3 GAYA BELAJAR
Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Biasanya gaya-gaya tersebut biasanya bawaan lahir atau diturunkan oleh orangtuanya. Bayi yang baru lahir dipenuhi dengan penglihatan, suara, dan kepekaan. Pendengaran, penglihatan, serta rangsangan sentuhan diterima dengan penerimaan yang sangat peka oleh telinga, mata, dan kulit bayi.

Di tahun-tahun pertama kehidupannya di dunia, dari tiga pengelompokkan gaya belajar, biasanya anak-anak memberikan satu gaya belajar yang lebih menonjol dari dua gaya belajar yang lain dan tergantung dari kepekaan gaya belajar mereka. Ketiga kelompok itu adalah, Pendengar, Pengamat, dan Penggerak.

1. Pendengar
Anak-anak yang termasuk jenis ini memperlihatkan ketertarikan yang lebih pada suara-suara dan kata-kata. Kemampuan mereka dalam berbicara lebih cepat dan juga cepat mengenal kata-kata baru serta senang bila dibacakan cerita-cerita.

2. Pengamat
Anak-anak yang termasuk jenis ini tertarik dengan warna, bentuk, dan gambar-gambar hidup. Koordinasi mata-tangan mereka sangat baik dan sebagai anak-anak mereka senang bermain dengan balok-balok dan puzzle yang sederhana.

3. Penggerak
Anak-anak yang termasuk jenis ini senang dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan tubuh seperti merangkak, berjalan, dan biasanya kemampuan mereka berjalan lebih cepat. Mereka terkoordinasi dan yakin dengan tubuh mereka. Mereka senang digendong, diayun-ayun, dan selalu mencari kontak fisik.
Gaya belajar ini dapat diamati sejak dini karena merupakan bawaan lahir dan sifat yang diturunkan oleh orang tuanya. Selain sebagai gaya yang diturunkan oleh orang tuanya, kadang-kadang gaya belajar anak juga cenderung mendekati gaya sanak keluarga seperti om, tante, atau kakek dan neneknya. Pada usia yang lebih besar, Anda dapat memperlihatkan penguasaan mereka di bidang mana yang lebih menonjol, misalnya anak Anda lebih menonjol di bidang matematika daripada bahasa.

USIA SEKOLAH
Anak-anak yang termasuk tipe pendengar biasanya juga senang berbicara baik di dalam kelas atau di mana saja dia berada. Dia senang membaca dengan suara keras dan kemampuannya membaca biasanya berada dua tingkat di atas rata-rata temannya. Dia pun sering berbicara sendiri bila sedang melakukan sesuatu hal. Selain itu, hobinya adalah mendengarkan radio ataupun pemutar CD yang selalu dibawanya ke mana pun dia pergi.
Sementara anak usia sekolah tipe pengamat biasanya berpembawaan tenang dan bahkan walaupun dia tahu jawabannya, dia jarang menjawab dengan spontan. Hobinya selain bermain komputer juga senang mengumpulkan benda tertentu. Matematikanya biasanya mendekati sempurna dan tulisannya rapi.
Sedangkan anak yang termasuk tipe penggerak biasanya mengeluarkan kata-kata yang kurang rapi. ia suka bersosialisasi, terkoordinasi dengan baik, dan tipe kompetitor yang alami. Ia juga senang bermain di tempat terbuka. Di dalam kelas, dia akan merasa gerakannya terbatas.

MASALAH
Jika anak tidak mendapatkan bimbingan dan dukungan dari orang tuanya, seiring dengan perjalanan waktu ia cenderung terpaku pada satu gaya belajar. Bila hal ini terjadi, dari sejak kelas satu sekolah dasar, anak yang termasuk tipe pengamat kemungkinan akan mengalami kesulitan menguasai bidang yang berhubungan dengan suara, tipe pendengar akan mengalami kesulitan dalam bidang matematika, dan tipe penggerak akan sulit duduk tenang di dalam kelas.

Gaya belajar yang ekstrem dapat menghasilkan ketidakmampuan belajar. Beri dukungan pada anak Anda sedini mungkin untuk dapat menguasai ketiga gaya belajar dengan porsi yang sama dari lingkungan di mana ia berada. Dengan cara memaksimalkan kemampuan belajarnya, kesulitan atau masalah yang mungkin akan dihadapi anak dapat dicegah.

www.KCM.com