Hmm, sampai mana ya ?
Seperti banyak disampaikan : virus itu tidak ada obatnya. Secara ringkas ini
jelas salah, wong ada yang namanya "obat anti virus" (antiviral therapy) kok
!
Tapi, dua-duanya perlu dipahami lebih dalam. Memang, seperti paparan
sebelumnya, secara langsung virus itu sendiri tidak bisa di-mati-kan seperti
antibiotika mematikan bakteri (ada sih zat yang bisa mematikan virus secara
langsung seperti detergen, alkohol, formaline, tapi kan nggak mungkin
meminumnya untuk membunuh virus di dalam tubuh). Lantas, antivirus itu untuk
apa ?
Untuk bisa memasuki suatu sel, perlu "kunci". Agar virus bisa
masuk dengan aman, maka dia bisa memiliki "kunci palsu" yang mirip dengan
kunci asli. Dengan cara ini tentara penjaga pintu gerbang maupun barisan
intelijen tidak mendeteksinya, karena dianggap "teman" sendiri.
Melengganglah virus dengan santai masuk pintu di dinding sel.
Begitu masuk pintu ini, sebenarnya kebanyakan virus tetap meninggalkan jejak
yang tertangkap radar barisan intelijen, bahkan ada yang "jaket" (envelope)
si virus ini sudah bisa menimbulkan infeksi. Masalahnya, setelah terlanjur
virus masuk sel, barisan intelijen dan batalyon pemukul bingung karena kalau
akan dihancurkan, sel itu masih "keluarga" sendiri.
Nah, satu kelompok obat antivirus berusaha mencari jalan menghambat kerja
virus mencari home-base ini, paling banyak dengan teknik "kompetisi" menutup
Celah di dinding sel yang "kunci palsu"nya sudah dipegang si virus.
Kelompok antivirus lain, berusaha mengganggu kerja virus dalam menumpang dan
menguasai home-base-nya. Dalam teknik ini ada risiko memang, meski sudah
diminimalkan, kadang terpaksa sel home-base-nya ikut rusak dalam usaha
menghancurkan virus yang "menyusup" ke dalamnya. Yah daripada terlanjur
dikuasai virus, terus jadi home-base serangan, terpaksa mengorbankan satu
sel keluarga sendiri ...
Disamping itu, ada kelompok obat antivirus yang berusaha memperingan efek
penyerangan virus dengan cara menghambat kerja "peluru dan meriam" (zat-zat
tertentu yang dikeluarkan si virus) penyebab sakit pada tubuh manusia.
Sejauh ini, belum ada obat antivirus yang 100% berhasil
menahan/menghambat/menghancurkan virus. TETAPI efeknya tetap signifikan
dalam : memperingan efek serangan virus, meminimalkan efek sisa paska
serangan dan memperingan kemungkinan penularan terhadap orang lain.
Sebagai contoh : pada Herpes zoster, pemberian Acyclocyr akan efektif bila
mulai diberikan sebelum 24 jam pertama. Mengapa ? Agar masih ada kesempatan
untuk melawan kerja si virus, sehingga sequele (gejala sisa) bisa minimal.
Kalau terlambat, virus terlanjur menguasai keadaan, maka dia akan sempat
membentuk "tempat persembunyian" di pangkal pembuluh syaraf, kemudian suatu
ketika kembali menyerang.
Ternyata, ada juga virus yang makin pinter. Virus hepatitis B atau HIV
misalnya, bisa melakukan teknik "doormant". Begitu masuk sel, dia melihat
bahwa suasana di luar sel tidak kondusif untuk melakukan serangan (tentara
siap, alutsishan lengkap, modern, canggih dan terpelihara - nggak kayak F16
kita - intelijen rutin patroli, radarnya bisa mengcover seluruh medan -
lagi-lagi nggak kayak punya kita - dan litbangnya juga tekun bekerja).
Menghadapi ini, si virus akan "sembunyi" dengan cukup menumpang saja, yang
penting tidak mati, tidak ambisius menguasai sel tempatnya menumpang. Sampai
suatu saat nanti, tentara pas lemah - mungkin situasi politik lagi goyah -
si virus bangun dari tidurnya dan menyerang manusia. Karena itu, masa
inkubasi HIV bisa bertahun-tahun, baru benar-benar menimbulkan masalah.
Apakah virus itu memang kerjanya hanya bikin susah ? Hmm, ternyata Tuhan
memang maha bijaksana. Memanfaatkan sifatnya yang "bak James Bond", jenis
virus tertentu bisa kita "titipi" zat terapetik, kemudian di-infeksikan agar
memasuksi sel-sel tertentu dalam tubuh kita, sehingga zat terapetik itu ikut
terbawa kesana.
Pada lapangan Gene-Therapy, si virus ini kita "rekayasa" agar memiliki sifat
genetik tertentu, kemudian kita infeksikan, dia memasuki sel-sel dalam
tubuh, menguasai sel tersebut, sehingga akhirnya sel tersebut berubah sifat
genetiknya sesuai keinginan kita. Tentu saja, untuk ini dipilih virus-virus
yang sudah "dijinakkan".
By : Dokter Tonang Ardyanto - Feb 2006
Cinta semua tercurah di Keluarga, kantor dan Bisnis Ibu. Apapun yang dimulai dengan niat baik, Insya Allah hasilnya akan baik juga. Berbagi cerita, berbagi pengalaman akan memperkaya diri kita dalam menghadapi tantangan dan cobaan. Bersyukur dan selalu melihat sisi positif akan membuat kita lebih tenang. Yakinlah bahwa Kekuatan Cinta akan menjaga kita. NUNUS DANNY FAMILY
Showing posts with label SEHAT. Show all posts
Showing posts with label SEHAT. Show all posts
Si Virus, obat & Sistem Imun (1)
Tonang
=====
Kalau kita menganggap secara sederhana unit kehidupan terkecil adalah sel,
maka sebenarnyalah si virus ini hanya "setengah hidup". Kalau bakteri
memiliki perangkat lengkap DNA dan RNA, si virus hanya punya salah satu
saja. Karena setengah hidup, maka antibiotika - anti terhadap yang
"bio", yang hidup - tidak mempan melawan virus. Karena itu hehehe ....
Penyakit pada anak-anak nggak perlu antibiotika ? Hmm, kita baca dulu deh
...
Namun, karena sifat "setengah hidup" ini pula, virus butuh sel yang hidup
untuk "ditumpangi". Begitu masuk tubuh manusia, segera si virus mencari sel
manusia untuk tumpangan. Setelah masuk sel, si virus akan berusaha menguasai
sel tempatnya menumpang, dengan menguasai sistem di dalam sel dan
menjadikannya home-base. Sebelum benar-benar menguasai sel tempatnya
menumpang, virus perlu waktu, ini yang kita kenal sebagai masa inkubasi.
Setelah menguasai itulah, si virus akan menimbulkan penyakit beragam
bentuknya, dengan melepaskan berbagai "peluru dan meriam".
Masalahnya, kalau sudah berhasil menguasai suatu sel, kemudian
menjadikannya home-base serangan, maka bumerang buat si virus, karena
kemudian sel itu akan mati dan pertahanan si virus menjadi terbuka.
Akibatnya apa ? Si virus harus beralih mencari "home-base" baru.
Sementara itu, saat tubuh manusia kemasukan si virus tamu tak diundang,
tentu saja tidak tinggal diam. Segera mereka membentengi diri, sehingga
ketika virus sudah menguasai sel, kemudian pertahanannya terbuka dan harus
mencari "home-base" baru, akan terlanjur terhadang pertahanan tubuh.
Jadilah si virus kehilangan sumber kehidupan, dan berakhirlah riwayatnya.
Karena itulah para SP disini sangat paham paradigma : penyakit akibat virus
bersifat self-limiting disease - lama-lama si virus juga mati sendiri - dan
tidak perlu antibiotika.
Lha kok kemarin katanya bisa saja diberikan obat ? Ceritanya ....
Seperti disebut diatas, tentu tentara tubuh tidak akan sekedar melongo di
markasnya melihat si virus merajalela. Terjadilah perang baratayudha, antara
Pandawa yang berbaju putih (sel-sel darah putih) melawan Kurawa berjas hitam
(Men in Black eh si virus maksudnya). Saking hebohnya pertempuran, tubuh si
anak jadi demam. Mengapa ? Karena si kurawa ini termasuk tentara yang meski
sakti, penampilan seram bak preman pasar ...mana aja deh, ketimbang
di-somasi .... tapi manjanya nggak ketulungan. Kalau tubuh manusia demam,
dia jadi cepat lelah, nggak garang lagi. Sementara si putih, kalau terjadi
demam, malah makin giat bertempur, makin giat mencetak tentara baru.
Karena itulah para SP sudah sangat paham : kalau anak demam jangan
buru-buru panik dan memberi obat. Mengapa ? Asal pertahanan memang kuat,
terus suhu tubuh naik, maka virus makin cepat dikalahkan ...
Mengapa kadang diperlukan obat ? Ceritanya ...
Setiap hari, sebenarnya banyak musuh mengancam tubuh manusia, ada si virus
hitam, ada si hijau bakteri (termasuk kerabatnya si parasit semacam cacing
kemarin).
Tetapi sebaliknya, tubuh juga punya tentara. Kita cerita soal sistem imun
tubuh dulu deh. Tentara tubuh terbagi atas 3 batalyon utama :
penyerang/pemukul, intelijen dan markas.
Si penyerang/pemukul ini siaga di semua lini dari pintu gerbang (kulit,
selaput lendir, permukaan usus) sampai siap diterjunkan melawan musuh di
segala medan dalam tubuh manusia.
Si intelijen bergerak lincah mengawasi setiap sudut, mengenali mana kawan
mana lawan, memberikan informasi kepada penyerang : mana yang harus
diserang, mana yang harus di-blokade, mana yang harus hati-hati tidak boleh
gegabah dihancurkan. (catatan : batalyon intelijen ini mah kelasnya jauh di
atas yang melakukan operasi intelijen terhadap anggota DPR penyelidik impor
beras hehehe ....)
Si batalyon markas bekerja di litbang, merancang setiap strategi serangan
maupun memproduksi senjata ampuh (antibodi) berdasarkan informasi dari
batalyon intelijen. Informasi setiap musuh yang pernah menyerang, disusun
dalam database, agar tentara lebih siap kalau suatu saat si musuh yang sama
kembali menyerang.
Nah, meski banyak si hijau (bakteri) yang setiap saat mengancam tubuh
Manusia, tetapi nasibnya lain dengan virus. Kalau virus, dia bisa masuk
tubuh melalui berbagai teknik kamuflase dan "kunci palsu" sehingga -
lagi-lagi karena sifat setengah hidupnya tadi - tidak mudah terdeteksi oleh
tentara tubuh penjaga pintu gerbang, bahkan seringkali bisa menipu
mentah-mentah, licin bagai belut, cerdik bagai kancil, tidak kalah dengan
jagoan kita : I am Bond, James Bond ...
Lain dengan si hijau, dasar orangnya "lugu", seragamnya norak, gaptek lagi,
tentara tubuh cepat mendeteksi. Jadilah pada saat tentara segar-bugar, siap
senjata, si hijau hanya bisa sekedar melakukan provokasi, sementara tentara
tubuh bahkan sudah siap kalaupun harus melakukan pre-emptive strike.
Saat tubuh bertempur baratayudha, tentulah dia akan banyak kehilangan
Sumber daya, konsentrasinya akan terfokus, pertahanannya akan rentan.
Saat-saat seperti itulah, si hijau (bakteri) punya peluang mencari celah
masuk tubuh manusia, memanfaatkan kesempatan.
Terus gimana coba ? Harus diberi "antibiotika" ?
Bisa dibayangkan, kalau saat harus bertempur, padahal sehari-hari si tentara
ini sudah kurang makan, kurang gizi, bahkan kurang personel gara-gara nggak
ada bakal tentara yang memenuhi syarat (tumbuh kembang tubuh kacau).
Karena itulah, pada kondisi tertentu, diperlukan "doping" power dari luar
("obat") agar para tentara itu sanggup mempertahankan tubuh dari pertempuran
melawan virus, sekaligus membentengi diri terhadap provokasi si bakteri.
Kapan kira-kira pasokan power dari luar ini diperlukan ? Faktor-faktor yang
gampang dipahami : kalau pertempuran melawan virus sudah kelewat lama,
analisa terhadap profil pertahanan tubuh sebelumnya mengindikasikan banyak
Kelemahan (sudah sering sakit-sakitan, tumbuh kembang terganggu), atau bila
tanpa disadari si bakteri sudah terlanjur menembus
barikade pertahanan.
Siapa yang menilai kebutuhan pasokan dari luar ini ? Bisa dari tubuh itu
sendiri yang mengibarkan bendera dan berteriak minta tolong (misalnya kejang
akibat demam mendadak, panas tinggi terus menerus tanpa perbaikan, nyeri
yang sangat) atau terlihat dari luar muncul tanda-tanda sudah ada penyusupan
bakteri yang memperparah serangan si virus (terbentuk pus/discharge,
pembengkakan, dan pemeriksaan lab tentunya). Dalam hal ini, Security Council
(Doctor) lah yang akan menilainya.
Berlanjut ....
=====
Kalau kita menganggap secara sederhana unit kehidupan terkecil adalah sel,
maka sebenarnyalah si virus ini hanya "setengah hidup". Kalau bakteri
memiliki perangkat lengkap DNA dan RNA, si virus hanya punya salah satu
saja. Karena setengah hidup, maka antibiotika - anti terhadap yang
"bio", yang hidup - tidak mempan melawan virus. Karena itu hehehe ....
Penyakit pada anak-anak nggak perlu antibiotika ? Hmm, kita baca dulu deh
...
Namun, karena sifat "setengah hidup" ini pula, virus butuh sel yang hidup
untuk "ditumpangi". Begitu masuk tubuh manusia, segera si virus mencari sel
manusia untuk tumpangan. Setelah masuk sel, si virus akan berusaha menguasai
sel tempatnya menumpang, dengan menguasai sistem di dalam sel dan
menjadikannya home-base. Sebelum benar-benar menguasai sel tempatnya
menumpang, virus perlu waktu, ini yang kita kenal sebagai masa inkubasi.
Setelah menguasai itulah, si virus akan menimbulkan penyakit beragam
bentuknya, dengan melepaskan berbagai "peluru dan meriam".
Masalahnya, kalau sudah berhasil menguasai suatu sel, kemudian
menjadikannya home-base serangan, maka bumerang buat si virus, karena
kemudian sel itu akan mati dan pertahanan si virus menjadi terbuka.
Akibatnya apa ? Si virus harus beralih mencari "home-base" baru.
Sementara itu, saat tubuh manusia kemasukan si virus tamu tak diundang,
tentu saja tidak tinggal diam. Segera mereka membentengi diri, sehingga
ketika virus sudah menguasai sel, kemudian pertahanannya terbuka dan harus
mencari "home-base" baru, akan terlanjur terhadang pertahanan tubuh.
Jadilah si virus kehilangan sumber kehidupan, dan berakhirlah riwayatnya.
Karena itulah para SP disini sangat paham paradigma : penyakit akibat virus
bersifat self-limiting disease - lama-lama si virus juga mati sendiri - dan
tidak perlu antibiotika.
Lha kok kemarin katanya bisa saja diberikan obat ? Ceritanya ....
Seperti disebut diatas, tentu tentara tubuh tidak akan sekedar melongo di
markasnya melihat si virus merajalela. Terjadilah perang baratayudha, antara
Pandawa yang berbaju putih (sel-sel darah putih) melawan Kurawa berjas hitam
(Men in Black eh si virus maksudnya). Saking hebohnya pertempuran, tubuh si
anak jadi demam. Mengapa ? Karena si kurawa ini termasuk tentara yang meski
sakti, penampilan seram bak preman pasar ...mana aja deh, ketimbang
di-somasi .... tapi manjanya nggak ketulungan. Kalau tubuh manusia demam,
dia jadi cepat lelah, nggak garang lagi. Sementara si putih, kalau terjadi
demam, malah makin giat bertempur, makin giat mencetak tentara baru.
Karena itulah para SP sudah sangat paham : kalau anak demam jangan
buru-buru panik dan memberi obat. Mengapa ? Asal pertahanan memang kuat,
terus suhu tubuh naik, maka virus makin cepat dikalahkan ...
Mengapa kadang diperlukan obat ? Ceritanya ...
Setiap hari, sebenarnya banyak musuh mengancam tubuh manusia, ada si virus
hitam, ada si hijau bakteri (termasuk kerabatnya si parasit semacam cacing
kemarin).
Tetapi sebaliknya, tubuh juga punya tentara. Kita cerita soal sistem imun
tubuh dulu deh. Tentara tubuh terbagi atas 3 batalyon utama :
penyerang/pemukul, intelijen dan markas.
Si penyerang/pemukul ini siaga di semua lini dari pintu gerbang (kulit,
selaput lendir, permukaan usus) sampai siap diterjunkan melawan musuh di
segala medan dalam tubuh manusia.
Si intelijen bergerak lincah mengawasi setiap sudut, mengenali mana kawan
mana lawan, memberikan informasi kepada penyerang : mana yang harus
diserang, mana yang harus di-blokade, mana yang harus hati-hati tidak boleh
gegabah dihancurkan. (catatan : batalyon intelijen ini mah kelasnya jauh di
atas yang melakukan operasi intelijen terhadap anggota DPR penyelidik impor
beras hehehe ....)
Si batalyon markas bekerja di litbang, merancang setiap strategi serangan
maupun memproduksi senjata ampuh (antibodi) berdasarkan informasi dari
batalyon intelijen. Informasi setiap musuh yang pernah menyerang, disusun
dalam database, agar tentara lebih siap kalau suatu saat si musuh yang sama
kembali menyerang.
Nah, meski banyak si hijau (bakteri) yang setiap saat mengancam tubuh
Manusia, tetapi nasibnya lain dengan virus. Kalau virus, dia bisa masuk
tubuh melalui berbagai teknik kamuflase dan "kunci palsu" sehingga -
lagi-lagi karena sifat setengah hidupnya tadi - tidak mudah terdeteksi oleh
tentara tubuh penjaga pintu gerbang, bahkan seringkali bisa menipu
mentah-mentah, licin bagai belut, cerdik bagai kancil, tidak kalah dengan
jagoan kita : I am Bond, James Bond ...
Lain dengan si hijau, dasar orangnya "lugu", seragamnya norak, gaptek lagi,
tentara tubuh cepat mendeteksi. Jadilah pada saat tentara segar-bugar, siap
senjata, si hijau hanya bisa sekedar melakukan provokasi, sementara tentara
tubuh bahkan sudah siap kalaupun harus melakukan pre-emptive strike.
Saat tubuh bertempur baratayudha, tentulah dia akan banyak kehilangan
Sumber daya, konsentrasinya akan terfokus, pertahanannya akan rentan.
Saat-saat seperti itulah, si hijau (bakteri) punya peluang mencari celah
masuk tubuh manusia, memanfaatkan kesempatan.
Terus gimana coba ? Harus diberi "antibiotika" ?
Bisa dibayangkan, kalau saat harus bertempur, padahal sehari-hari si tentara
ini sudah kurang makan, kurang gizi, bahkan kurang personel gara-gara nggak
ada bakal tentara yang memenuhi syarat (tumbuh kembang tubuh kacau).
Karena itulah, pada kondisi tertentu, diperlukan "doping" power dari luar
("obat") agar para tentara itu sanggup mempertahankan tubuh dari pertempuran
melawan virus, sekaligus membentengi diri terhadap provokasi si bakteri.
Kapan kira-kira pasokan power dari luar ini diperlukan ? Faktor-faktor yang
gampang dipahami : kalau pertempuran melawan virus sudah kelewat lama,
analisa terhadap profil pertahanan tubuh sebelumnya mengindikasikan banyak
Kelemahan (sudah sering sakit-sakitan, tumbuh kembang terganggu), atau bila
tanpa disadari si bakteri sudah terlanjur menembus
barikade pertahanan.
Siapa yang menilai kebutuhan pasokan dari luar ini ? Bisa dari tubuh itu
sendiri yang mengibarkan bendera dan berteriak minta tolong (misalnya kejang
akibat demam mendadak, panas tinggi terus menerus tanpa perbaikan, nyeri
yang sangat) atau terlihat dari luar muncul tanda-tanda sudah ada penyusupan
bakteri yang memperparah serangan si virus (terbentuk pus/discharge,
pembengkakan, dan pemeriksaan lab tentunya). Dalam hal ini, Security Council
(Doctor) lah yang akan menilainya.
Berlanjut ....
25 CARA ALAMIAH MENCEGAH FLU DAN PILEK
Anda dapat mencegah flu dan pilek hanya dengan menguatkan sistem imun dengan
cara alamiah, tanpa obat, ...begitu menurut Dr.Michael Grossman, M.D., dan
Jodi Jones, dalam buku mereka, The Vitality Connection: Ten Practical Ways
to Optimize
Your Health and Reverse the Aging Prosess.
Menurut Jones, tak ada pil ajaib untuk mencegah penyakit. Cara terbaik
adalah menerapkan gaya hidup sehat. Sedang menurut Grossman, pertahanan
terbaik terhadap virus musiman tersebut adalah dengan menguatkan sistem imun
Berikut ini 25 cara yang menurut mereka menguatkan pertahanan alamiah tubuh
terhadap flu dan pilek :
1. Makan satu buah jeruk setiap hari.
Jeruk mengandung vitamin C, salah satu suplemen utama untuk memerangi pilek.
2. Istirahat yang cukup.
Tubuh kita akan mengisi ulang energi ketika kita tidur sehingga bisa melawan
serangan kuman penyakit.
3. Kurangi timbulnya stres yang bersamaan dengan kekecewaan emosional. Stres
dapat melemahkan sistem imun tubuh.
4. Makan bawang putih setiap hari.
Bawang putih dapat menguatkan sistem imun dan memerangi bakteri.
5. Banyak minum air putih.
6. Gunakan jahe pada masakan dan minuman.
Jahe selain dapat menghangatkan tubuh juga memberi kekebalan tambahan dalam
sistem pertahanan tubuh.
7. Makan makanan kaya vitamin E seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan
padi-padian utuh.
8. Konsumsi makanan yang mengandung Zinc seperti biji labu, gandum, dan
sardin.
9. Jamu echinacea membantu mencegah pilek dan flu. Juga meminimalisir
efeknya.
10. Sering mencuci tangan dengan sabun agar bersih dari bakteri dan kuman.
11. Jaga kerongkongan agar tetap lembab.
Penelitian di Inggris mengungkapkan, menghisap zinc lozenges secara drastis
mengurangi jumlah dan tingkat keparahan pilek.
12. Olahraga ringan dapat membantu menguatkan sistem imun minimal jalan
selama 30 menit.
13. Hindari tempat yang banyak orang, terutama ditengah cuaca lembab dan
dingin, dimana orang dengan pilek dan flu dapat menularkan penyakitnya.
14. Makan sup ayam ditambah bawang bombay dan bawang putih. Obat kuno ini
berkhasiat karena meningkatkan aliran mucus hidung yang membuat kuman
dikeluarkan dari sistem tubuh kita.
15. Jaga agar tubuh tetap hangat.
Terpapar udara yang terlalu dingin atau basah dapat membuat Anda sakit. Jika
kedinginan, mandi air hangat dan kenakan baju hangat.
16. Jaga udara di dalam rumah tetap lembap dengan menggunakan humidifier.
17. Minum jus wortel dan jus sayuran setiap hari. Vitamin-vitamin di dalam
jus meningkatkan imunitas terhadap penyakit.
18. Makan yogurt minimal 1 cup sehari untuk mempertahankan bakteri baik di
dalam sistem pencernaan.
19. Beri cabai pada makanan. Cabai atau makanan yang pedas membantu
membersihkan membran mucous.
20. Minum jus nanas.
Jus nanas kaya dengan enzim bromelain yang berkhasiat untuk kesehatan.
21. Minum ramuan pencegah flu.
Caranya : seduh 1 sendok makan irisan horsedish atau jahe dengan 1 cangkir
air panas, tambahkan 1 sendok makan madu dan 2 butir cengkeh.
22. Makan bawang karena mengandung quercetin, suatu senyawa yang memerangi
virus dan bakteri.
23. Jika hidung keburu meler, beri beberapa tetes minyak kayu putih atau
minyak angin pada wadah berisi air mendidih. Tutup kepala dengan handuk dan
hirup uapnya.
24. Jangan merokok. Rokok dapat menimbulkan ketegangan pada sistem
pernapasan.
25. Jaga sikap positif. Penelitian menunjukan, tetap bersemangat adalah
kunci tetap sehat dan bahagia.
Grossman menyarankan memprioritaskan kesehatan. Luangkan waktu untuk merawat
diri dulu sehingga Anda dapat tetap sehat dan menjaga kesehatan keluarga.
(idionline/NeT)
Subscribe to:
Posts (Atom)